Di Matanya, Kita adalah Malaikat

+ Kamu kerja dimana sekarang, May?
- Ngurus anak-anak, jadi ibu rumah tangga...
+ Emangnya bisa gak ngapa-ngapain?
- Emangnya jadi ibu rumah tangga, gak ngapa-ngapain?
+ Bukaaan, maksudku, kamu kayaknya bukan tipe yang biasanya bisa dirumah aja gitu.
Antara sebel dan geli ketika saya mengalami percakapan diatas dengan salah satu mantan kolega kantor. Sebel karena betapa rendah nilai seorang ibu rumah tangga dimatanya. Geli karena saya prihatin dengan cara berpikir kolega saya tersebut.

credit

Oh tunggu dulu.
Saya tidak menulis dalam sudut pandang ibu rumah tangga.
Bukan menulis dari mantan ibu bekerja penuh waktu.
Dan juga bukan menulis sebagai ibu bekerja dari rumah yang sekarang sedang saya rintis.
Bukan dari sudut pandang itu semua.

Saya melihat itu dari sudut pandang saya sebagai penyintas kekerasan anak. A child abuse survivor.


***
ASI atau susu formula,
cesar atau normal,
berat badan bertambah atau langsung langsing setelah melahirkan,
si kecil diberikan makanan organik atau fast food,
ingin punya satu anak atau banyak anak,
merasa senang setelah melahirkan atau mengalami depresi,
tidur dengan bayi atau tidur terpisah,
bubur instan atau homemade,
berkata lemah lembut atau terkadang berteriak marah.

Siapa pihak ibu yang menang dalam perang tiada akhir ini?

Bukankah yang paling terpenting dari semua pilihan itu adalah memilih kebahagiaan anak-anak? Anak-anak tidak peduli berapa jumlah uang yang ia dapatkan dari ibu. Atau baju. Atau mainan. Atau makanan. Atau bersihnya rumah. Atau rapinya setrikaan baju.

Yang lekat di ingatannya adalah :
  • buku dongeng yang diceritakan ibunya sebelum ia tidur
  • pegangan lembut tangan ibunya ketika mereka berdua jalan bersama
  • senyum ramah ibunya ketika pulang bekerja
  • tawa renyah ibunya ketika mereka bermain bersama
  • pelukan-pelukan di setiap waktu
  • percakapan-percakapan lucu ketika makan malam
  • wajah konyol ibunya ketika menirukan hewan
  • ciuman-ciuman lengket dan basah di wajah yang disukainya ketika kecil dan dibencinya ketika beranjak remaja
  • ucapan selamat pagi ketika bangun tidur
  • suapan ibunya yang sedang bergegas dan diburu waktu berangkat ke kantor
  • belaian lembut di dagu seraya dipandang mesra sang ibu
  • ucapan doa yang dipanjatkan oleh ibunya ketika kesal : "Ya Tuhaaaan! Semoga kamu jadi anak yang sholeeeeh!"
  • pangkuan manja di atas tikar piknik atau sekadar di halaman samping rumah
  • bermain air di pantai atau sekadar di dalam ember
  • tangisan ibunya karena terlalu sedih atau kewalahan
  • ucapan ibunya ketika gelas atau piring pecah, "Naaaak! Kena kakinya?!?" dengan wajah yang sangat cemas
  • kue bantat yang ia dan ibunya panggang bersama-sama dan tetap menghabiskannya dengan lahap bagai kue terenak sedunia
  • prakarya yang ia kerjakan bersama ibu beserta rumah yang berantakan dan porak poranda
  • atau geli telinganya ketika dibersihkan ibu
credit

Saya akan rela menukar apapun di dunia ini untuk mendapatkan kasih sayang itu menggantikan kenangan pahit dalam hidup saya ketika kanak-kanak. Tak peduli kasih sayang itu didapatkan dari ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Sungguh tak peduli.
Namun, demi apapun juga, itu mustahil.

Sebagai gantinya, saya dititipkan anak-anak yang luar biasa. Sekarang saatnya sayalah yang memberikan kasih sayang itu untuk mereka.
Benar-benar tidak mudah. Saya tidak tahu bagaimana mengasihi anak-anak, namun harus mengasihi anak-anak. Allah memang Maha Pengasih. Dengan bantuan suami dan mertua, saya belajar (sangat lama) apa dan bagaimana mencintai dan berkasih sayang.

Tak usah ditanya betapa seringnya saya kehilangan kendali diri atas Bee si 5 tahun dan Boo si 1 tahun. Apalagi ketika mereka berdua kompak merengek dan menangis. Ketika marah dan menatap mata anak-anak, saya teringat betapa merananya saya dulu. Saya tak ingin ia mengalami kesedihan dan kebencian yang saya alami. Saya tak sanggup jika anak-anak membenci saya. Segera, saya meminta maaf dan memeluk dirinya erat-erat. Atau jika kemarahan saya belum reda atau bahkan akan segera meledak, saya ungsikan diri di dalam kamar mandi. Saya terlalu takut menjadi seorang monster untuk mereka.

Dua puluh tahun lagi, anak-anak kita hanya akan mengingat waktu-waktu yang kita habiskan bersamanya, tak peduli apakah ibunya bekerja di rumah atau di luar rumah. Anak-anak kita hanya mengingat bagaimana ia diberikan kasih sayang oleh ibunya. Bagaimana ia diperlakukan.

Saling berprasangka baik satu sama lain dan berdamai pada diri sendiri. Masih banyak tugas besar yang harus kita jalani dalam mendidik dan menyayangi si buah hati.

Jangan biarkan hati kita berperang. Jangan biarkan hati kita cemburu.
Ibu rumah tangga cemburu pada ibu bekerja karena punya penghasilan sendiri.
Ibu bekerja cemburu pada ibu rumah tangga karena lebih banyak waktu untuk si buah hati.

Percayalah, tak ada pilihan yang mudah. Tak pernah ada pilihan yang mudah ketika kita memilih menjadi seorang ibu. Yang terpenting bagi anak-anak, di mata mereka, kita adalah malaikatnya.

“In a child's eyes, a mother is a goddess. She can be glorious or terrible, benevolent or filled with wrath, but she commands love either way. I am convinced that this is the greatest power in the universe.”
N.K. Jemisin, The Hundred Thousand Kingdoms 


post signature

Komentar

  1. hug...^^
    apapun itu hidup adalah pilihan, bener memang, ibu dan alm abahku sampai sekarang sering menari2 dalam ingatan waktu masih kecil, ibu yang sering bikinin aku ayam bali,abah yang sering mendadak ngajak jalan sore2 cuma berdua beli soto di kota,ahhhh.....#mewek
    jadi nostalgia deh habis baca tulisanu mbak, salam buat Bee n Boo yaa ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi keinget kenangan sama ortu ya mbak...peluk cium dari Bee dan Boo :)

      Hapus
  2. seperti pepatah Jawa "urip iku mung sawang sinawang" kalo udah kek gini apapun pilihan hidup org kenapa kita kudu usil ya mak.

    Kamis itu manis, have a sweet Thursday mak Maya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, berprasangka baik jauh lebih baik :)

      Have a sweet Thursday juga mbak Dwi!

      Hapus
  3. Makasih banyak catatannya. Ngingetin lagi what does it mean to be parent. Saya merinding bacanya. Kadang saya juga jadi kelepasan emosi kalo menghadapi anak yang nangis. Hiks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita menjadi orang tua yang terus belajar ya mas ...

      Hapus
  4. Tulisannya bagus mbak :) Setuju apa pun pilihan ibunya itu semua untuk yang terbaik untuk anak. :) Salam kenal ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak Maureeen! Salam kenal kembali dan makasih sudah berkunjung ya!

      Hapus
  5. Ya ampuuuun, maak... Tulisan ini bener2 touching hiksss... Semoga kita diberi kekuatan utk jd a better Mom, terus menerus ya maak...

    BalasHapus
  6. Ya Allah..betapa hari-hari ini naik dan turun menghiasi hubunganku dengan anak lelakiku... 20 tahun lagi mereka akan mengingat apa yang mereka dapat hari ini. Hug hug and ayoook mulai yang terbaik untuk anak-anak kita, investasi kita...saling mengingatkan betapa indahnya blogger ini

    BalasHapus
  7. setuju mak... setiap pilihan pasti ada kelebihan dan kekurangannya, dan hanya diri kita sendirilah kendalinya

    BalasHapus
  8. Terharu bacanya Mak...
    Debat seperti itu emang enggak ada habisnya.
    Padahal, anak2 juga enggak ada yg peduli mungkin.
    Lebih baik jalani pilihan yg udah kita pilih.
    Enggak usah menghakimi & iri sama orang lain.
    Karena anak kita yg lebih penting. Bukan omongan mereka.
    Semangat Mak.. :)

    BalasHapus
  9. setuju dgn tulisan ini, yg terbaik adalah untuk anak, apapun kegiatan ibunya, semoga emosiku yg jg kdg meledak tdk menjadi kenangan buruk u anak2, selalu permintaan maaf aku utarakan, menjadi ibu memang anugrah terindah :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. menjadi ibu memang harus terus belajar dan memperbaiki diri, mbak. aku yakin, mbak telah berusaha dan akan terus berusaha :)

      Hapus
  10. indah sekali menjadi seorang ibu, bahkan biarpun dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya seorang ibu tetaplah ibu, malaikat di mata anak2nya...uuhh jadi terharu

    BalasHapus
  11. menjadi ibu memang bukan sekedar pilihan ini itu ya mak tapi bagaimana membuat mereka bahagia dan diri sendiri bahagia dgn pilihan yang sudah kita pilih. kalau mebanding2kan tak akan ada titik temu hehe

    BalasHapus
  12. ada yang perlu dibenahi oleh anak kepada ibunya ketika mereka berani mengatakan kalau mereka sanggup membayar perjuangan seorang ibu, tapi itu tidak akan berhasil walapun para anak memberi emas setinggi gunung dan seluas lautan, sebab jasa ibu tidak bisa digantikan :D

    BalasHapus
  13. Setuju May.. Setuju bangetttttttt..

    BalasHapus
  14. Semua ibu apapun profesinya pasti di mata anaknya selalu yang tersayang ya mak...:)

    BalasHapus
  15. merinding bacanya... #peluk mayya, setiap ibu malaikat untuk anaknya ya May.... setuju banget

    BalasHapus
  16. Aaaaaaah... meweeeeek bacanya Mbak May, so touchiiiiiiing T_T

    BalasHapus
  17. dimata anak seorang ibu malaikat dan pahlawannya ya mbak. Pernah beberapa kali juga temen komen ke aku kok capek2 kuliah gak ngapa2in sih jadi ibu rumah tangga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anggap angin lalu aja deh ya mbak, perkataan seperti itu :)

      Hapus
  18. terharu ih bacanya asliii :( .. ciuman lengket yang dibencinya ketika sudah remaja

    BalasHapus
  19. Tulisannya bagus banget Mak Mayya, bikin terharu... Kadang2 aku suka terjebak dengan hal2 yang gak penting seperti ngomel2 karena rumah jadi kotor dan berantakan berat 10 menit setelah anak2 pulang dari sekolah, atau gak mau diajak main karena setrikaan masih numpuk... Makasih sudah mengingatkan apa yang lebih penting... Hugs :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti nama blog mbak, have fun with kids! ^___^

      *hugs*

      Hapus

Posting Komentar

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)
Nowadays, I've been have hard times to reply comments or blogwalking to your blog. So, thank you so much for visiting me here!

Postingan Populer