The Trauma #1

*Kisah ini merupakan kisah penyintas kekerasan pada anak oleh ibu narsistik, perlu kebijaksanaan dalam membacanya.*

Banyak trauma yang diblocking oleh otak sendiri, tapi rasa benci dan dendamnya masih kebawa sampai sekarang. Beberapa orang akan bilang, 
"Bagaimanapun itu mama sendiri"
"Harus bisa memaafkan orang tua sendiri"
"Dia udah tua, kita harus maafkan"

Bagaimana mungkin mereka paham sakitnya karena tidak mengalami. Derita fisik dan mental berulang-ulang tiap hari. Mana mereka paham. Ya kan?

So there we go. 
Apapun trigger, yang muncul tiba-tiba akan dituliskan disini. Supaya anak-anak kelak mengerti apa yang telah Bundanya alami. Bahwa betapa beratnya memutus tali kekerasan yang terjadi pada anak-anaknya ketika Bundanya muda dianiaya. 

The Trauma #1
Setiap marah, mama akan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam pipi saya, menariknya lebar-lebar hingga bibir terasa mau koyak. Dia tidak pernah mau berhenti seteriak atau semenangis apapun saya. Wajahnya begitu beringas, tanpa ada sedikitpun sekelebat kasih sayang sedikit aja di matanya. Ia tidak punya rasa kasian sama sekali. Ia berhenti jika sudah melampiaskan amarahnya pada tarikan jarinya pada dalam mulut saya sekencang-kencangnya. Ia melakukan ini tiap marah. Dan ia marah setiap hari pada saya. 

Try to feel that.
Masukkan kedua telunjukmu di pipimu lalu tarik keras-keras, selama 3 menit. Feel that pain. 


Komentar

Postingan Populer